Minggu, 03 April 2011

                       Sejarah Reog Ponorogo
        Cerita Rakyat Prabu Kelana Sewandana/Kerajaan Bantarangin
Cerita rakyat Prabu Kelana Sewandana ini adalah versi yang dirumuskan
oleh Mbah Wo Kucing (Kamituwo Kucing) atau Kasni Gunopati, sesepuh Warok
dan pemilik kelompok reog terkenal “Pujonggo Anom”. Cerita ini sifatnya
subyektif dan dapat berbeda dengan cerita Prabu Kelana Sewandana dari sumber
lain.
Adalah sebuah kerajaan baru di sekitar daerah Wengker (angker), yaitu
daerah di sebelah timur Gunung Lawu dan sebelah barat Gunung Wilis. Kerajaan
itu dinamakan Bantarangin karena daerah itu banyak anginnya. Dibangun oleh 3
Resi kinasih, yaitu : Jin Jami Joyo, Raden Nilosuwarno dan Ki Gedhug Padhang
Ati.
Sejak pemerintahan dipegang oleh Prabu Kelana Sewandana maka
kerajaan Bantarangin semakin pesat kemajuannya. Bahkan banyak Raja-Raja
muda yang bergabung dengan Bantarangin. Para Manggala, Tamtama serta Agul-
agul kerajaan tidak bosan-bosannya berlatih olah krida peperangan dan olah
ketrampilan menggunakan senjata. Tidak ketinggalan pula olah kesaktian batin.
Prabu Kelana Sewandana sendiri turun tangan; berkenan menurunkan aji-
ajian/mantra-mantra kepada para Senapati perang kerajaan. Juga Sang Patih
Pujonggo Anom, yang lazimnya mendapat sebutan Bujang Ganong, juga turut
mengajarkan kepandaiannya dalam peperangan. Hal ini membuat kerajaan
Bantarangin terkenal, harum semerbak baunya sampai ke luar kerajaan. Apalagi
kedua pusaka yang dimiliki Raja dan Patih Bantarangin berwujud Pecut
Samandiman dan Ajian Landhak Putih, yang kedahsyatannya sudah terbukti,
merupakan pusaka kerajaan pemberian Sang Brahmana (Ki Sunan Lawu) tatkala
mereka berdua berguru kepadanya.
        Namun pusaka yang dimiliki Raja dan Patih tersebut sangatlah berat
pantangannya dan apabila pantangan itu dilanggar akan mendapat murka dari
Dewata Hyang Agung. Adapun larangan yang dipesankan Sang Guru Ki Sunan
Lawu adalah :
a. Sang Prabu Kelana Sewandana harus menjauhi seorang putri (wanita).
b. Sang Prabu Kelana Sewandana tidak boleh sembarangan menggunakan Pecut
Samandiman, apabila tidak mendapat perintah dari Sang Guru.
Maka, untuk mencegah agar jauh dari kesenangan terhadap wanita, Prabu Kelana
Sewandana memelihara pemuda-pemuda tampan sebagai penghiburnya. Pada
umumnya pemuda simpanan itu disebut “gemblakan”. Bahkan kawula
Bantarangin yang sudah menguasai semua ilmu, yang biasa disebut Warok, juga
memelihara gemblakan. Itu semua karena mengikuti jejak junjungannya, yaitu
Raja Kelana Sewandana.
          Pada masa kejayaannya, kerajaan Bantarangin aman tentram karena
kepandaian dan ketrampilan Sang Patih juga sebagai Pamong Praja (pelindung
raja). Sang Patih menciptakan :
a. Gong Beri : sebagai tanda berkumpulnya para Manggala, Tamtama dan
kawula praja Bantarangin. Alat ini akhirnya lebih dikenal dengan nama
kempul” karena sebagai tanda berkumpul.
b. Bendhe Anung : sebagai tanda pengumuman dari kerajaan. Lazimnya dikenal
dengan nama “kenong” karena bila dipukul berbunyi ”nong...nong...
c. Seruling/Terompet : sebagai tanda penghormatan, yang kini lebih dikenal
dengan sebutan “slompret”.
d. Pasukan Kuda Teji : yang pandai dan mahir menari sehingga menambah
kesenangan (kelangenan) Sang Prabu Kelana Sewandana.
        Saat malam yang hening dan sepi Sang Prabu Kelana Sewandana tidur
terlentang di bangsal keraton sambil termenung dengan memandang terus langit
yang indah dihiasi bintang-bintang bertaburan di angkasa raya. Dalam
permenungannya, Sang Prabu Kelana Sewandana memikirkan penerus
kerajaannya. Hal ini terpikir atas saran usul ketiga resi yang ngembani (bertindak
sebagai penasihat) Sang Prabu Kelana Sewandana, yaitu Jin Jami aya, Raden
Nilosuwarno dan Ki Gedhug Padhang Ati.
        Atas dasar pemikiran, siapa yang akan menggantikan tahtanya nanti, maka
diputuskanlah pencarian permaisuri (prameswari). Karena pada saat itu terdengar
kabar tentang kecantikan putri Kediri : Dyah Ayu Sangga Langit (putri sang Raja
Kediri : Lembu Amisena), maka diutuslah Sang Patih Bujang Ganong untuk
melamarkannya. Dengan diiringi para Tamtama pilihan, berangkatlah rombongan
berkuda itu hendak melamar putri Kediri.
Pada waktu itu daerah antara Kediri dan Trenggalek masih berupa hutan
belukar. Tepatnya di Tulungagung, yaitu hutan yang disebut dengan nama Wana
Roban (Alas Roban). Di Wana Roban inilah hidup segerombolan harimau yang
dipimpin oleh Raja Singo Barong. Pusat kekuasaan Sang Singo Barong berada di
Lodoyo, Blitar. Di antara bermacam-macam mahluk peri kekuasaan Singo
Barong, satu yang menjadi kesenangannya yaitu burung merak, karena parasnya
yang elok serta jalannya yang melenggak-lenggok sehingga dapat menghibur Raja
Singo Barong.
         Pada suatu saat Sang Raja Singo Barong dalam mimpinya mendapat
wangsit bahwa kerajaan Lodoyo hanyut terbawa banjir. Satu-satunya yang
selamat adalah Sang Raja Singo Barong dan burung merak kesayangannya. Maka
diperintahkanlah kepada semua kawula Lodoyo, terutama para prajurit harimau
untuk lebih berjaga-jaga di semua wilayah Lodoyo. Para prajurit itu diperintahkan
untuk menangkap siapapun yang masuk wilayah kekuasaan Lodoyo, entah hidup
ataupun mati.
        Akhirnya barisan Singo Barong bertemu dengan barisan Tamtama dari
Bantarangin yang hendak melakukan perjalanan ke Kediri, di bawah pimpinan
Sang Patih Bujang Ganong/Pujonggo Anom. Karena selisih pendapat, terjadilah
peperangan diantara keduanya. Merasa terjepit, Sang Patih Pujonggo Anom segera
memberikan sasmita (sandi) kepada Tamtama agar melaporkan kepada Sang Raja
Kelana Sewandana di Bantarangin. Mendapat laporan demikian, Sang Raja
Bantarangin, Prabu Kelana Sewandana murka.
         Maka beliau sendiri berangkatlah memimpin para Tamtama maju ke depan
laga. Mengetahui kesaktian lawan yang tidak boleh dianggap remeh, maka segera
dihunusnya pusaka Kyai Pecut Samandiman. Dengan amarah besar yang meluap-
luap dicambuknya Sang Singo Barong. Seketika itu lemaslah Sang Singo Barong.
 Bagai disiram air mendidih, panas rasa sekujur tubuhnya. Dengan suara
mengaum-aum bertobatlah Sang Singo Barong, memohon kepada Sang Prabu
untuk tetap memberinya hidup. Ia berjanji seumur hidupnya, bahkan sampai anak
turunannya di kemudian hari akan mengabdikan diri kepada Sang Prabu Kelana
Sewandana. Sang Prabu berkenan menerima pengabdian Sang Singo Barong dan
memerintahkannya untuk menghadap sewaktu-waktu dibutuhkan. Sang Singo
Barong-pun menyanggupinya dan kembali ke kerajaannya. Sekembalinya Sang
Singo Barong, segeralah diperintahkan kepada Sang Patih Pujonggo Anom untuk
melanjutkan perjalanannya ke Kediri. Kali ini perjalanan Sang patih tanpa
pengikut. Untuk mempercepat perjalanannya, ia menggunakan Aji Landhak Putih,
yaitu amblas bumi/menerowong bumi.
      Tatkala Sang Prabu Kelana Sewandana menggunakan Pecut Samandiman
untuk melawan Sang Singo Barong, suara cambukan tersebut menggelegar
bagaikan suara halilintar. Menggelegarnya suara cambuk tersebut sampai ke
puncak Gunung Lawu, dimana Sang Brahmana, Ki Sunan Lawu bersemadi.
Firasat yang diterimanya adalah salah seorang dari siswanya jelas melanggar
sumpah. Sang Brahmana (Ki Sunan Lawu) adalah seorang pertapa yang sakti dan
mempunyai penglihatan batin yang kuat. Ia melihat bahwa Sang Prabu kelana
Sewandana kelak menjadi raja yang abadi sampai beliau sendiri berubah
wujudnya. Penglihatan itu tidak akan terwujud jika Sang Prabu Kelana
Sewandana jadi mempersunting dan akhirnya menikah dengan putri Kediri. Maka
bergegaslah Sang Brahmana pergi ke Kediri. Dengan ilmunya, Sang Brahmana
ngraga sukma nunggal sejiwa (melepas roh dari badan dan merasuk) dalam tubuh
Sang Putri Kediri, Dyah Ayu Dewi Sangga Langit.
        Pada waktu itu, Ki Patih Pujonggo anom telah sampai di Kediri dan
maksud dari kedatangannya telah diterima dan dipahami oleh Sang Raja Kediri
(Lembu Amisena). Namun karena yang akan menjalani perkawinan itu adalah
putrinya, dan kebetulan waktu itu Sang Putri sowan (menghadap raja), maka
diserahkannya kepada Sang Dewi Sangga Langit sendiri untuk menjawabnya.
Setelah mendapat ijin dan restu dari ramandanya, Sang Putri menjawab bersedia
dipersunting dan mau menjadi permaisuri Prabu Kelana Sewandana asal Sang
Prabu dapat mengabulkan permintaannya, yaitu :

a. Perjalanan temanten dari daerah Wengker sampai Alun-alun Kediri harus
melalui jalan di bawah tanah (menerobos bumi).
b. Iring-iringan pengantin harus diiringi budaya luhur/kesenian yang belum
pernah ada di dunia ini.
c. Tamtama pengiring harus pemuda yang terampil berkuda dan gagah, lagipula
harus tampan, sebanyak 144 orang.
Permintaan Sang Dewi itu sebenarnya bukan atas kemauannya sendiri,
melainkan keinginan Sang Brahmana (Ki Sunan Lawu) yang telah meraga sukma
dengan Dewi Sangga Langit.
        Sang Patih Pujonggo anom segera bergegas kembali ke Bantarangin untuk
memberikan kabar itu kepada Sang Prabu Kelana Sewandana. Setelah mendengar
kabar itu, segeralah Sang Prabu mengumpulkan semua orang kepercayaannya
untuk mencari jalan pemecahan dalam memenuhi permintaan Sang Putri Kediri.
Diantaranya adalah para Resi kinasih, yaitu : Jin Jami Joyo, Raden Nilosuwarno
dan Ki Gedhug Padhang Ati, Sang Patih Pujonggo Anom dan Sang Raja Lodoya,
Singo Barong. Dengan niat yang sungguh-sungguh disertai dengan kekuatan
batin, berhasilah pekerjaan itu dengan pembagian sebagai berikut :
a. Ketiga Resi kinasih membuat barisan warok dengan ketiga resi itu sendiri
sebagai tetuanya/pemimpinnya.
b. Singo Barong dan burung merak kesayangannya menciptakan Merak Barong
yang lazimnya disebut Dhadhak Merak.
c. Sang Patih Pujonggo Anom menciptakan gerak bersama di antara para
tamtama yang gagah dan tampan yang mengendarai kudanya masing-masing
yang sudah terlatih. Akhirnya paduan gerak ini terkenal dengan sebutan
Jaranan/Jathilan. Juga alat-alat seperti gong beri, kenong, slompret
digunakannya sebagai alat pengiring.
       Maka lengkaplah sudah kreasi budaya karya cipta yang adiluhung tersebut.
Tibalah saatnya untuk membuat terowongan sebagai jalan yang akan
dilalui iring-iringan itu. Terowongan tersebut telah dibuat, namun pekerjaan itu
terasa sangat lamban. Sang Prabu Kelana Sewandana memutuskan untuk
menggunakan Pecut Samandiman. Pecutan tersebut membuat bumi bergoyang
bagaikan tertimpa gempa.
Seketika itu munculah Ki Sunan Lawu dengan tiba-tiba. Karena telah
melanggar sumpah/wewaler guru untuk kedua kalinya, maka Sang Prabu Kelana
Sewandana harus memilih satu di antara dua pilihan :
a. Hidup di dunia sampai alam baka dan selalu menjadi junjungan, dihormati dan
selalu dihargai serta dipuja kawula Bantarangin, bahkan sampai orang-orang
di luar wilayah kekuasaannya.
b. Terlaksana menyunting permaisuri, tetapi tetap tidak mempunyai keturunan
dan tiada riwayat Bantarangin, bahkan akan cunthêl (putus tak bersisa).
          Seketika heninglah suasana. Semua yang ada disitu dengan perasaan was-
was menunggu apa yang menjadi keputusan rajanya. Namun tidak terduga
jawabannya. Sang Prabu Kelana Sewandana yang masih muda perkasa itu
ternyata sangat besar perhatiannya terhadap kawula-nya, sehingga beliau memilih
kelangsungan hidup para kawula Bantarangin, yaitu pilihan ke satu. Maka
gemuruhlah suara kawula, hambata rubuh suarake (soraknya bagai tembok bata
yang roboh).
         Kemudian Ki Sunan Lawu berkata : “Sira kabeh rak wis sarujuk ta, lan
sahiyek saeko proyo?” (“Apakah kalian juga sudah setuju dan satu kesepakatan
semuanya?”). Kemudian dengan serempak pula dijawab “Iya!” oleh semua
kawula Bantarangin. Arak-arakan lamaran Prabu Kelana Sewandana ke Putri
Kediri inilah yang akhirnya terkenal dengan sebutan Reyog
Penyusun: KRT Suwito Tjokro Adipuro
Sumber: http://digilib.petra.ac.id

3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. https://kokonatsutrrrrrrrrrrrrr.blogspot.co.id/2017/12/resep-kue-natal-istimewa-chocolate.html
    https://kokonatsutrrrrrrrrrrrrr.blogspot.co.id/2017/12/7-langkah-yang-harus-dilalui-sebelum.html
    https://kokonatsutrrrrrrrrrrrrr.blogspot.co.id/2017/12/kereta-api-di-india-tabrak-5-ekor-gajah.html

    Taipan Indonesia | Taipan Asia | Bandar Taipan | BandarQ Online
    SITUS JUDI KARTU ONLINE EKSKLUSIF UNTUK PARA BOS-BOS
    Kami tantang para bos semua yang suka bermain kartu
    dengan kemungkinan menang sangat besar.
    Dengan minimal Deposit hanya Rp 20.000,-
    Cukup Dengan 1 user ID sudah bisa bermain 7 Games.
    • AduQ
    • BandarQ
    • Capsa
    • Domino99
    • Poker
    • Bandarpoker.
    • Sakong
    Kami juga akan memudahkan anda untuk pembuatan ID dengan registrasi secara gratis.
    Untuk proses DEPO & WITHDRAW langsung ditangani oleh
    customer service kami yang profesional dan ramah.
    NO SYSTEM ROBOT!!! 100 % PLAYER Vs PLAYER
    Anda Juga Dapat Memainkannya Via Android / IPhone / IPad
    Untuk info lebih jelas silahkan hubungi CS kami-Online 24jam !!
    • FaceBook : @TaipanQQinfo
    • WA :+62 813 8217 0873
    • BB : D60E4A61
    Come & Join Us!!

    BalasHapus
  3. 💫🌈 *BISNIS DARI RUMAH* 🌈💫

    🚨🚨Modal *50rb* 🚨🚨

    💥 *get 20rb berkali2!!!* 💥

    🔊🔊🔊 *WOW FANTASTISSSSS!!*

    ✴️ *JOIN NOW* 🚩🚩 *GRATIS* aplikasi PPOB+Deposit15rb ( 🆓 )
    Cek infonya disini 👇🏻👇🏻👇🏻

    https://againdo.net/?id=kokok

    🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥

    BalasHapus